Hari ini aku merindukanmu wahai bayangan embun, aku menantikan kemurnian yang datang bersamamu, kemurnian hati sang pemilik kebeningan. Kemurnian hati sang pemilik keheningan.
Kerinduan ini semakin tak terkendali, ketika jatuh air langit dengan deras nya menghujani bumi yang gersang.
Kerinduan yang sama aku rasakan pada mu wahai penunggang kuda-kuda putih bersyair merdu dan membangkitkan semangat. Aku disini menunggu untaian baris baris suci sang penganti suara, sang penganti pikir.
Pulang lah.. aku menantikan kehadiran mu, sebuah sajak suci yang kau lantunkan lewat bibir bibir nan indah dan mengoda
Kamis, 21 Juli 2016
Sang bayangan embun
Tenang kita
Globalisasi merupakan hal.yang tak.lagi asing ditelina masyarakat luas, entah kalangan petani, pelajar, buruh, kaum cendekiawan, kaum.pemodal serta para pemegang kekuasaan. Globalisasi tak ubahnya sebuah fenomena mendunia segala aspek kehidupan di segala lini, tak ada pembatas antara semua negara untuk bertransaksi, berhubungan, menjalin mitra, melakukan perkongsian dalam hal ekonomi, pendidikan khususnya. Globalisasi yang diharapkan oleh sebagian besar umat manusia akan membawa kehidupanya lebih mapan dengan terbuka luasnya informasi dari semua dunia, ibarat kata ki new york ada banjir di ponorogo sudah tahu 5 detik kemudian. (Mungkin gak new york banjir, kayak jakarta wae :-)), keberadaan globalisasi yang kemudian diikuti oleh modernisasi membuat banyak hal berubah. Banyak hal berkembang pesat dan h lainya merosot cepat.
Kita mahasiswa adalah makhluk yang paling gigih mengatakan no globalisasi/ kita harus mencari hikmah dari adanya globalisasi, kita harus menjaga nilai-nilai bangsa indonesia, karena dalam globalisasi terdapat efek buruk yang membuat kita lupa akan jati diri membuat kita lupa akan identitas diri. Cintailah produk dalam negeri karna itu mari kita tekan efek buruk globalisasi.
Tapi sadarkan kita para mahasiswa adalah makhluk yang paling banyak menyumbang perkembangan globalisasi, dengan adanya sikap antipati, acuh ataupun kita yakin kita terhindar dari globalisasi kita adalah pelaku utama didalamnya.
Terbukti dari pakaian yang kita pakai, kita pikir kita pakai batik, yaaa ini pakaian khas indonesia, tp kita tak tahu produsen-produsen nya dari negara lain, yang mamou membandrol harga lebih murah,
Ataupun sebagian dari kalian yang mengaku aktivis tak ada hal yang indah yang kalian lakukan kecuali untuk kepentingan organisasi kalian, kalian orang yang memekikkan nasionalisme, demokrasisme, moderat, lupa tujuan kaki kalian berpijak.
Tak lebih indah hal yang hari ini dilakukan mahasiswa pada umumnya, kita terlalu sibuk dengan sesuap nasi yang akan kita dapat dari ijazah. Pernahkah kita berfikir jika hal ini dilanjutkan bagaimana keadaan kita 10 tahun mendatang, dapatkah kita memastikan kita mampu makan dengan nasi, kita mampu melihat anak-anak tertawa, mampu melihat langit biru. Kita adalah generasi puncak negeri ini. Ini bukan masalah ku atau masalah mu ini masalah kita, aku kamu dan mereka
Ibu cinta
Ini semua bukan tentang aku atau tentang kamu wahai kawan ku...
Ini semua tentang kita tentang aku kamu dan mereka
Ini semua tentang kita, sejarah kita, dan.perjuangan kita..
Entah sampai kapan kawanku entah sampai kapan sahabatku perasaan ini akan membakar hati...
Kita sahabat kita dilahirkan dari satu rahim Indonesia, kita menghirup udara yang sama udara Indonesia.. kita semua makan makanan yang sama makanan orang Indonesia..
Apa yang membuat kita marah, kita saling membenci, kita beradu argumentasi untuk sesuap nasi?
Wahai sahabatku kita tak kan mapu hidup dengan saling membunuh kita takkan hidup dengan saling menginjak kita akan hidup jika kita berjalan bersama.
Bumi kita menangis
Ia tak pernah menangis karena luka yang ia derita karena ulah kita.
Ia menangis jika suatu hari nanti ia tak sampai umur untuk menjaga anak turun kita, betapa sungguh mulia hatinya bahkan setelah ia kita siksa ia masih memikirkan kita..
Alam sampai hari ini masih bertahan dan mencoba menjaga siklusnya...
Ayo kawan ayo sahabat ku
Lindungi ibu kita lindungi bumi kita lindungi bangsa kita.
Sekarang bukan waktunya kita saling menyalahkan karena urusan agama, bukan waktunya kita saling adu tinju karena masalah pangkat, bukan waktunya kita saling jotos karena masalah nasi, bukan waktunya adu kaki karena masalah kekuasaan. Sekarang waktunya kita rapatkan barisan.
Anak cucu kitalah yang akan menerima buah dari kebodohan kita
Ika Siti Maisyaroh