Minggu, 19 Juni 2016

Guyonan rek edisi 1 (jurus jitu sang bos)

Bos : kacung, gimana keadaan mahasiswa sekarang?
Kacung : wah, beragam bos, kalau dikelas sedikit yang memperhatikan forum diskusi kelas bos, malah mereka ada yang suka tidur , ada yang suka ngobrol sendiri, ada yang suka bolos kuliah alasannya berorganisasi, ada yang suka keperpus juga bos, tp kebanyakan cuma ngerjain tugas makalah kalau ndak gitu ngadem di perpus bos, yang baca buku jarang bos.
Bos : terus sekarang mahasiswa itu pada sibuk ngapain ?
Kacung : selain sibuk ngurusin kepuasan pribadi kayak shopping sama maen game, mereka sekarang lagi sibuk dengan lautan tugas-tugas dari dosen bos, tiap minggu ada aja tugasnya.
Bos : good job cung, jadi kita telah berhasil mempengaruhi para pemangku kebijakan, mereka tanpa sadar telah membuat sistem dan peraturan yang mematikan nalar bebas dan nalar kritis mahasiswa. Mahasiswa pun ndak bakal sadar kalau sekarang, kita sedang mempersiapkan ribuan buruh terpelajar untuk mengisi industri industri besar milik kita, dan kita akan semakin kekal berjaya diatas siklus pembodohan yang kita buat untuk mereka.
Kacung : kok bos bisa sepede itu bos?
Bos : ya jelas taa cung, sekarang saja mereka berjuang mati-matian mengerjakan tugas dosen, untuk apa? Untuk nilai. Nilai apa? Nilai yang nantinya dicoretkan dalam selembar kertas yang akan mereka gunakan untuk melamar pekerjaan di industri-industri besar kita. Dan kita akan membayar mereka secukupnya untuk sesuap nasi dan tak kan pernah cukup untuk sebuah kebebasan diri.
Kacung : kita sedikit lagi akan memenangkan pertempuran ini ya bos.
Bos : itu pasti. Biarlah mahasiswa sibuk dengan tugas2nya, biar.mereka ndak sadar bahwa kertas kertas itu hanya kertas bertinta dan berstampel, biar mereka lupa yang terpenting ada di dalam otak bukan yang ada diatas kertas, tp ngomong 2 yang katanya mahasiswa aktivis itu ada ngak kalau di kampus kita?
Kacung : mahasiswa aktivis itu yang gimana ya bos?
Bos : itu looo, mereka suka mengkritik dan memberi solusi, mereka yang suka belajar di organisasi, mereka yang suka nongkrong tp sambil diskusi,mereka yang mempunyai kecerdasan baik di tingkat kelas, kampus dan organisasi.
Kacung : emang ada yang kayak gitu ta bos, lha waktu saya keliling kampus ndak ada loo bos, kalau ada yang nongkrong yang dibahas pacar, spikan, kalau ndak gitu selvi-selvi bos atau main game.
Bos : wah kemajuan pesat bagi kita ini cung, rencana kita menjauhkan mereka dari berbagai hal intelektual sudah hampir berhasil, kemarin kita kan bekerja sama membuat aplikasi aplikasi hedonis terutama game dan kamera ditambah dengan kita bekerja sama membuat isu lapangan pekerjaan menyempit, mahasiswa dituntut memiliki ijazah yang bagus, yang mereka lakukan sekarang hanya buat tugas dan hura hura.
Kacung : tp bos ada juga yang diskusi masalah bisnis loo itu ndak bahaya?
Bos : tidak terlalu hari ini yang mereka pikirkan kan uang, itu bisa kita manfaatkan mereka lebih sibuk lagi di dunia uang dan lupa tanggung jawab moral dan intelektual mereka, tapi nanti kalau mereka melakukan hal yang berbahaya, baru akan kita luncurkan lagi isu terkait sistem kapitalisme.
Kacung : wah bos, nanti saya ikut bantu ya bos, saya juga ingin pinter kayak bos. Tp bos ini masih ada keluhan juga bos masih ada loo yang diskusi terkait kegelisahan mereka tentang akademik dan lingkungan ini gimana bos?
Bos : ini yang agak gawat, kita besuk berkerja sama dengan pihak berkuasa lainya untuk membuat isu baru terkait agama biar mereka pada heboh mengulek ulek itu, padahal kan jelas masalah akidah tidak bisa ditawar, masalah muamalah diserahkan kepada kemaslahatan, itu saja yang kita umpankan, kita lalu akan tambah lagi intruksi intruksi standard untuk perusahaan agar mahasiswa yang mau kerja karena ijazah, semakin sibuk dengan ijazahnya, kita akan tambah kurikulum kurikulum yang akan membuat mereka tercekik dan perlahan kita buat mereka menjadi buruh berkat ilmu ilmu instan yang kita buat.
Kacung : jant ora ndlomok, jos tenan bosku. Kalau gini terus pekerjaan kita semakin ringan ya bos, tp saya agak khawatir ntar kalau muncul sosok mahasiswa aktivis gimana bos, diam diam mereka diskusi di.luar membuat wacana untuk membasmi kita?
Bos : halah.. kita antisipasi dengan peluncuran kurikulum dan isu agama atau kita buat aplikasi baru yang membuat mereka lupa akan tangung jawaban nya, selesai.
Kacung : tp kalau ndak mempan gimana bos ?
Bos : kita pecah belah mereka, seng tenang, saya ini sedang mengarap isu untuk membuat mereka saling beradu otot untuk hal yang tak perlu.
Kacung : jant bos, bosku memang hebat.

Minggu, 12 Juni 2016

Perempuan harus bergerak

Oleh Ika Siti Maisyaroh
Perempuan dan laki-laki adalah makhuk hidup yang sama, keduanya sama-sama bernafas, bergerak dan berotak, serta pada umumnya sama-sama memiliki kemampuan menggunakan akal, perempuan dengan karakter halusnya tidak lantas hal itu menjadikan sebuah pemikiran bahwa perempuan itu makhluk lemah dan tidak pantas menjadi patner kerja, berkarya dan berproduksi bersama laki-laki.
Hal yang membuat cara pandang masyarakat berbeda antara laki-laki dan perempuan adalah sosial budaya dimana perempuan itu hidup. Dulu berabad-abad yang lalu perempuan dengan segala ketimpangan, diskriminasi dan marginalisasi yang dilakukan kaum laki-laki membuat perempuan hidup dalam keterpurukan, Naasnya hal ini malah dikira suatu kodrat dan hal ini memang benar, bisa dimisalkan ketika kaum laki-laki diperbolehkan bercengkrama dan berdiskusi masalah-masalah sosial politik dan pendidikan, para perempuan hanya dibolehkan duduk diam sambil merajut pakaian dirumah dan dibatasi geraknya.
Perempua memiliki kekuatan yang tidak dimiliki laki-laki, yaitu kepekaan perasaan hal ini yang tidak dimiliki laki-laki, ketika para perempuan diseluruh dunia mampu mengkolaborasi antara hasil pengasahan otak, kemampuan nalar dan kelembutan hatinya, perempuan mampu menciptakan generasi yang lebih bermanfaat kedepan. Ha ini dibuktikan dari sebuah artikel bahwa sel otak yang mempengaruhi anak adal sel otak ibu bukan sel otak ayah, jika saja semua calon ibu berpendidikan tinggi dan berwawasan luas betapa cemilangnya bangsa kita ini kedepan.
Hari ini dalam dunia praktis, misal dibeberapa daerah terpencil contohnya desa tempat tinggal saya para ibu dan kaum perempuan disana sudah mampu menjadikan dirinya patner kerja bagi laki-laki, seperti seorang ibu sudah mau mencari rumput sebagai pakan hewan ternak sedang suaminya menggarap sawah, ataupun kedua-duanya berkerja sama gotong royong mengarap ladang dan sawah keluarga.
Dalam benak saya, bagaimana meminjam praktek gotong royong dan patner kerja tersebut dalam ranah perempuan yang berpendidikan, karena disadari atau tidak jumlah mahasiswa dikampus saya sendiri itu 65 % perempuan, dalam jumlah yang relative lebih banyak mahasiswa perempuan kurang aktif dikelas, hanya segelintir orang yang mampu mendongkrak prestasinya lewat voice yang ia berikan di kelas dan diluar kelas. Ketiak hari semua perempauan mau keluar dari status quo yang dikontuksi untukya kelaur dari cengkraman modernisasi dan gaya hidup yang glamor, bukan mustahil akan tercipta perempuan hebat berwawasan tinggi serta mampu menghasilkan generasi muda yang lebih baik darinya, itulah kodrat sebenarya perempuan. Dealnya ketika hari ini populasi perempuan itu lebih banyak dari pada laki-laki maka seharusnya perempuan yang sukses juga harus seimbang.