Oleh Ika Siti Maisyaroh
Perempuan dan laki-laki adalah makhuk hidup yang sama, keduanya sama-sama bernafas, bergerak dan berotak, serta pada umumnya sama-sama memiliki kemampuan menggunakan akal, perempuan dengan karakter halusnya tidak lantas hal itu menjadikan sebuah pemikiran bahwa perempuan itu makhluk lemah dan tidak pantas menjadi patner kerja, berkarya dan berproduksi bersama laki-laki.
Hal yang membuat cara pandang masyarakat berbeda antara laki-laki dan perempuan adalah sosial budaya dimana perempuan itu hidup. Dulu berabad-abad yang lalu perempuan dengan segala ketimpangan, diskriminasi dan marginalisasi yang dilakukan kaum laki-laki membuat perempuan hidup dalam keterpurukan, Naasnya hal ini malah dikira suatu kodrat dan hal ini memang benar, bisa dimisalkan ketika kaum laki-laki diperbolehkan bercengkrama dan berdiskusi masalah-masalah sosial politik dan pendidikan, para perempuan hanya dibolehkan duduk diam sambil merajut pakaian dirumah dan dibatasi geraknya.
Perempua memiliki kekuatan yang tidak dimiliki laki-laki, yaitu kepekaan perasaan hal ini yang tidak dimiliki laki-laki, ketika para perempuan diseluruh dunia mampu mengkolaborasi antara hasil pengasahan otak, kemampuan nalar dan kelembutan hatinya, perempuan mampu menciptakan generasi yang lebih bermanfaat kedepan. Ha ini dibuktikan dari sebuah artikel bahwa sel otak yang mempengaruhi anak adal sel otak ibu bukan sel otak ayah, jika saja semua calon ibu berpendidikan tinggi dan berwawasan luas betapa cemilangnya bangsa kita ini kedepan.
Hari ini dalam dunia praktis, misal dibeberapa daerah terpencil contohnya desa tempat tinggal saya para ibu dan kaum perempuan disana sudah mampu menjadikan dirinya patner kerja bagi laki-laki, seperti seorang ibu sudah mau mencari rumput sebagai pakan hewan ternak sedang suaminya menggarap sawah, ataupun kedua-duanya berkerja sama gotong royong mengarap ladang dan sawah keluarga.
Dalam benak saya, bagaimana meminjam praktek gotong royong dan patner kerja tersebut dalam ranah perempuan yang berpendidikan, karena disadari atau tidak jumlah mahasiswa dikampus saya sendiri itu 65 % perempuan, dalam jumlah yang relative lebih banyak mahasiswa perempuan kurang aktif dikelas, hanya segelintir orang yang mampu mendongkrak prestasinya lewat voice yang ia berikan di kelas dan diluar kelas. Ketiak hari semua perempauan mau keluar dari status quo yang dikontuksi untukya kelaur dari cengkraman modernisasi dan gaya hidup yang glamor, bukan mustahil akan tercipta perempuan hebat berwawasan tinggi serta mampu menghasilkan generasi muda yang lebih baik darinya, itulah kodrat sebenarya perempuan. Dealnya ketika hari ini populasi perempuan itu lebih banyak dari pada laki-laki maka seharusnya perempuan yang sukses juga harus seimbang.
Minggu, 12 Juni 2016
Perempuan harus bergerak
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar