Bekerjasama dengan orang lain itu adalah kata kuncinya. Praktik kerjasama sering kita jumpai baik dilingkungan masyarakat, sekolah maupun keluarga kecil kita sendiri.
Masyarakat mengajarkan kerjasama melalui hal hal seperti saat melakukan kerja bakti, selain unsur gotong royong yang kental dalam kerja bakti, unsur kerjasama sangat kentara, dimisalkan ada agenda kerjabakti membersihkan jalan, pastilah disitu terdapat satu rangkaian kerjasama, terdapat bagian bagian yang melaksanakan tugas masing-masing(menutup bagian berlubang, memotong rumput, membuang sampah, membersihkan selokan) untuk menyelesaikan tujuan bersama yaitu jalan yang bersih, rapi dan nyaman bagi pengunanya(setidaknya itu adalah pemandangan masyarakat pedesaan), punpula di sekolah. Sejak kecil kita diajarkan kerjasama melalui melaksanakan tugas kelompok disekolah, dimana guru memberi tugas kecil seperti mengamati metamorfosa ulat menjadi kupu kupu, kita diajari bagaimana membagi tugas untuk mencari, mengamati, kemudian membuat laporannya.
Tapi satu yang perlu diperhatikan kerjasama bukanlah gotong royong,
Kerjasama menekankan prinsip pembagian tugas bagi setiap elemen untuk menyelesaikan suatu target, sehingga sangat yang ditekankan ialah kemampuan setiap elemen, sedangkan gotong royong cenderung berkerja secara bersama-sama. Kecenderungan memutar balikkan makna ini menimbulkan kesalahpahaman dalam kebiasaan kerjasama. Masih hangat di pikiran ketika guru menugasi tugas kelompok, maka yang dipahami adalah bekerja secara bersama-sama, sehingga ketika ada seseorang yang merasa tidak mampu melakukan satu hal dalam tugas tersebut maka ia akan lebih memilih tidak ikut melakukan kerja kelompok, misalkan saja ketika seorang guru menugasi suatu kelompok untuk melakukan observasi tentang upaya pembudidayaan ikan mas, maka selain seluruh kelompok secara bersama-sama datang ke lokasi pembudidayaan, maka harus dibagi petugas pencatat hasil observasi, melakukan dokumentasi, melakukan wawancara, dan lain sebagainya.
Yang paling mengecewakan ialah memudarnya praktik kerjasama di segala hal, isu masyarakat individualisme, merajalelanya isu penanaman idealisme materialis, dan pola pandang pragmatis, menimbulkan efek bahwa kerjasama adalah hal yang kuno, kuno itu gak bagus, gak keren, dan gak keren sama dengan tidak dibutuhkan.
Pemikiran yang sama ataupun pandangan yang hampir mirip dengan ini haruslah dihapuskan karena tidak sesuai dengan jiwa bangsa indonesia, tidak perlu dijelaskan panjang lebar bagaimana menjamurnya kerjasama yang membuat bangsa ini dulu jaya.
Satu kebiasaan yang harus disebarkan lagi adalah kerjasama,
Minggu, 05 Maret 2017
Bekerjasama atau bekerja secara bersama-sama
Senin, 20 Februari 2017
Krombang itu apa sih?
Salah satu jenis talas talasan yang bisa diolah menjadi makanan adalah krombang. Berbeda dengan jenis talas yang lain, bagian tubuh krombang yang bisa dimanfaatkan tak hanya umbinya tp daun dan batangkrombang juga bisa dimanfaatkan menjadi sayur pelengkap nasi. Trus rasanya gimana?
Gatal kah?
Krombang tidak memiliki kandungan getah putih seperti yang ada di talas (enthek: jawa) sehingga tidak mengakibatkan gatal ketika memakanya. Rasanyapun tak kalah enak dari sayur lain seperti kangkung, daun ketela pohon, atau pun sawi. Ini cara sederhana mengelola krombang sampai siap dimasak.
1, ambil beberapa batang krombang, potong menjadi 3 bagian, (1daun,2batang)
2, pisahkan batang krombang dengan kulit arinya.
3, potong potong tipis sekitar 0,5 cm miring(sesuai selera)
4, untuk daun hilangkan tulang daun krombang, dan daun krombang bisa dipotong memanjang, atau sesuai selera.
5, jika sudah selesai, semua bahan dicuci dan di rebus dengan ditambahkan sedikit garam kira kira 15 menit.
6, Ketika selesai buang semua kandungan air, dengan memeras nya sampai kering.
7. Krombang siap di masak menjadi oseng krombang, dengan bumbu umum seperti bawang merah dan.cabai atau dimasak lodeh dengan tambahan tahu sebagai pelengkap... selamat mencoba...